Senin, 21 April 2014

Liga Champions: Atletico 1-0 Barcelona Kesuksesan Simeone Mengantisipasi Taktik False 9 Martino

Kesuksesan Simeone Mengantisipasi Taktik False 9 Martino

Pandit Football Indonesia - detikSport
Kamis, 10/04/2014 16:30 WIB
 
Atletico Madrid membuat sensasi dengan lolos ke babak semifinal Liga Champions untuk pertama kalinya dalam 40 tahun terakhir. Mereka membuat sensasi ini dengan menyingkirkan Barcelona.

Setelah menahan rivalnya itu 1-1 di Camp Nou, pasukan Diego Simeone itu berhasil menaklukkan Barca dengan skor 1-0 di Vicente Calderon tadi malam.

Gol cepat Koke di menit kelima menjadi salah satu kunci kemenangan Atleti. Selain itu sistem pertahanan sempurna yang dibangun Simeone membuat Barcelona kesulitan memasuki area sepertiga akhir.

Seperti biasa, Barca memang lebih banyak menguasai jalannya pertandingan. Namun hal ini bukan berarti Atletico bermain bertahan. Bahkan sang tuan rumah mampu unggul dalam penciptaan peluang dan sangat merepotkan pertahanan lawannya dengan serangan-serangan baliknya.

Barca melakukan 12 kali tembakan dengan hanya 3 yang mencapai sasaran, berbanding 15 shot (5 on target) untuk Atletico. Bahkan, pertandingan baru berjalan 18 menit saja para penyerang Atletico sudah 3 kali melesakkan attempt yang membentur gawang.



Pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, susunan pemain kedua tim tidak banyak berubah. Tapi di laga ini berbeda karena selain faktor absennya beberapa pemain (Atletico), pergantian taktik yang dimainkan kedua pelatih juga turut menjadi faktor berubahnya susunan line-up.

Barca mempunyai masalah serius di lini belakang menyusul absennya Gerard Pique yang menderita cedera pada pertemuan pertama lalu. Masalahnya, bek muda Marc Bartra belum begitu padu berduet dengan Javier Mascherano. Selebihnya, Tata Martino menurunkan pemain-pemain yang sama, meski dalam formasi yang berbeda.

Utak-atik paling mencolok adalah dengan Fabregas yang dipasang menjadi false 9. Ia didampingi Messi dan Neymar yang menjadi penyerang kanan dan kiri dalam formasi 4-3-3. Penempatan Fabregas sebagai false 9 sebenarnya mendulang kritik dari banyak orang, karena ia dianggap kurang bisa memberikan ketajaman pada lini depan Barca.

Tapi mungkin saja strategi itu dikarenakan Tata berharap pada kemampuan Fabregas dalam memberikan umpan terobosan untuk menembus lini pertahanan Atletico. Hingga saat ini, Fabregas memang tercatat sebagai pembuat assist terbanyak Blaugrana dengan 13 kali.
Hal menarik lainnya adalah bagaimana Simeone telah mengantisipasi taktik yang diterapkan Tata. Sebelum pertandingan, muncul kabar dari berbagai media bahwa Barca berlatih dengan menempatkan Fabregas sebagai false 9. Kabar yang ternyata sama dengan kenyataan di lapangan.

Simeone mengubah pola permainan 4-4-2 ke formasi 4-3-3 dengan kecenderungan lebih bertahan. Absennya Diego Costa dan Arda Turan memang membuat Simeone harus memikirkan taktik lainnya. Strategi menumpuk pemain di tengah yang dipakai juga mampu menghambat laju bola Barcelona. Tak heran jika pasukan Los Cules masih kerap kesulitan memasuki area sepertiga akhir.

Dua Rintangan dari Atletico

Atletico memang menerapkan strategi bertahan. Tapi bukan hanya dengan menumpuk pemain di area sendiri. Mulai dari zona pertahanan Barcelona, para penyerang Atletico sudah melakukan tekanan dan coba merebut bola secepat mungkin. Mereka seolah terlihat menerapkan strategi high-pressing meski tidak diikuti dengan high defensive line.

Kunci untuk melakukan permainan ini adalah: ketika bola gagal direbut dan Barca sudah memasuki area Atletico, para gelandang dengan segera akan membentuk tembok pertahanan di depan empat bek. Transisi bertahan yang cepat ini lah yang jadi keunggulan Atletico.


[Grafik tekel Atletico, agresif di tengah - statszone]

Pada fase ini, seperti biasa, Barcelona akan menguasai bola sepenuhnya dan pemain Atletico hanya menunggu bola di belakang. Meski begitu, berkat kemampuan Koke, Tiago, dan Gabi dalam membaca bola, banyak umpan-umpan Barcelona yang gagal masuk ke sepertiga akhir. Ini karena para gelandang tersebut fasih melakukan intersepsi.


[Grafik intersepsi Atletico - statszone]

Salah satu rahasia sukses bagaimana Atletico tetap mendapat banyak peluang meski tertekan adalah disiplinnya para gelandang mereka. Sesegera mungkin mereka akan berusaha merebut bola yang dikuasai Barca.

Agresifnya permainan Atletico juga membuat Barca harus memecahkan dua rintangan di atas: tekanan yang diberikan di area mereka sendiri dan solidnya tembok pertahanan lawan. Keadaan ini memaksa Barca sesekali harus bermain bola-bola panjang agar dapat terus mengalirkan permainan.
 
Kondisi ini diperparah dengan buruknya kemampuan duel bola udara Barcelona, sehingga banyak kesempatan yang membuat Barca kehilangan penguasaan bola. Dari 27 duel udara, 20 diantaranya dimenangkan oleh Atletico dengan mayoritas area duel terjadi di tengah.

Pada 15 menit pertama Atletico bahkan tidak terlihat bertahan ultra-defensive meski sudah unggul cepat melalui gol Koke. Ketika menyerang, bisa ada 6 pemain berada di area sepertiga akhir. Maka, tidak heran jika pada awal-awal pertandingan tuan rumah lebih mampu menciptakan banyak peluang.

Taktik Penempatan Fabregas yang Mudah Terbaca

Menempatkan Fabregas sebagai false 9 dengan diapit Neymar dan Messi terbukti gagal, meski posisi ini merupakan salah satu keahlian Fabregas, baik di timnas Spanyol maupun sekarang di Barcelona. Bahkan saat pertemuan melawan Atletico pada Januari lalu, posisi ini juga yang ditempati oleh Fabregas.

Salah satu penyebab hal tersebut adalah rapatnya para pemain bertahan Atletico. Harapan agar Barca bisa membuka celah bagi Fabregas lewat akselerasi Messi ataupun Neymar juga kandas.

Justru yang terjadi adalah posisi Neymar dan Messi yang rapat ke tengah karena memang jarang terdapat pemain Barca di dalam kotak penalti. Umpan-umpan ajaib yang biasa diperagakan Barcelona juga tidak terlihat.

Diharapkan mencetak gol melalui "coming from behind", Fabregas malah tidak banyak menghasilkan peluang. Tercatat ia hanya membuat dua: satu peluang lewat luar kotak penalti dan satu tendangan yang diblok.

Iniesta yang seharusnya bertugas memanjakan lini depan Barca malah lebih banyak berada melebar di sayap kiri. Satu-satunya jalan bagi gelandang Blaugrana ini agar tiki-taka dapat terus berjalan memang dengan melebar.

Kondisi tersebut juga membuat timpangnya cara menyerang Barcelona, dengan lebih banyak bertumpu pada Neymar dan Iniesta di sisi kiri.

Man Of The Match: Koke
Ada satu kekhawatiran terhadap lini depan Atletico ketika pencetak tujuh gol di Liga Champions musim ini, Diego Costa, harus absen. Namun, melihat performa sektor depan The Red and Whites pada pertandingan kali ini, para pendukung mereka dapat tersenyum lega.

Simeone sangat paham bagaimana memanfaatkan kesempatan yang ada dan membaca permainan dengan baik. Pertahanan Barcelona dibuat tak berdaya dengan menerima gempuran-gempuran dari David Villa dkk.

Selain sektor depan yang memang unggul dalam hal berduel perebutan bola. Terdapat satu nama yang patut diberikan apresiasi, yakni Koke. Pemain muda Spanyol berusia 22 tahun tersebut layak diberikan gelar man of the match.

Tidak hanya mencetak gol tunggal yang menjadi kunci kemenangan Atletico, ia juga mampu jadi penyeimbang lini tengah. Koke menjadi alternatif serangan Atleti selain melalui serangan balik bola-bola panjang.


[Grafik umpan sepertiga akhir Atletico – statszone]

Kesimpulan


Atletico memiliki pola transisi yang baik terutama dari menyerang ke bertahan. Selain itu, taktik yang diterapkan oleh Simeone juga terbukti berhasil memutus alur serangan antarlini Barcelona.

Cara tuan rumah bertahan dari serangan Barca juga patut diberikan apresiasi. Tim tamu harus menghadapi dua lapis pertahanan sekaligus, yakni pressing ketat di area Barca, dan dapat segera melakukan transisi ke formasi bertahan ketika berada di area sendiri.

Tapi ini tidak berarti Atletico hanya puas bertahan. Melalui serangan balik dengan bola-bola panjang yang diarahkan ke area Alba-Mascherano, Atletico mampu berkali-kali menembus lini pertahanan Barcelona.

Sedangkan Blaugrana terbukti gagal menempatkan Fabregas sebagai seorang false 9. Lini tengah Atletico terlalu kuat untuk ditembus umpan-umpan terobosan yang biasa dilakukan Xavi dkk. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah buruknya kinerja lini belakang Barcelona.

Penampilan Bartra masih belum padu dengan Mascherano sehingga ketiadaan Pique juga sangat terasa. Barcelona memang agak keras kepala ketika tidak melakukan perburuan di lini belakang. Apalagi dengan hukuman larangan transfer yang harus mereka terima. Pertahanan Barcelona bisa jadi sangat keropos pada musim depan. 

Copa del Rey: Real Madrid 2 - 1 Barcelona Menundukkan Barcelona dengan Di Maria sebagai Pusat Serangan

Menundukkan Barcelona dengan Di Maria sebagai Pusat Serangan

Pandit Football Indonesia - detikSport
Kamis, 17/04/2014 15:09 WIB

Real Madrid berhasil menjuarai Copa del Rey sekaligus meraih trofi pertama mereka musim ini. Mereka menundukkan musuh bebuyutannya, Barcelona, dengan skor 2-1. Kemenangan ini membuat Real Madrid kini berpeluang untuk meraih treble winner.

Sedangkan bagi kubu Barcelona, kekalahan ini adalah yang ketiga secara beruntun. Tersingkir dari Liga Champions, poin La Liga yang semakin menjauh dari Atletico, hingga sekarang menyerahkan gelar Copa del Rey kepada Real Madrid, setidaknya bisa jadi gambaran bagaimana terpuruknya Blaugrana dalam dua minggu terakhir.

Terlepas dari permasalahan performa Barcelona, laga El Clasico semalam tetap menarik untuk disimak, seperti halnya pertandingan-pertandingan antar Real dan Barca sebelumnya. Saling membalas gol hingga perselisihan antar pemain mewarnai jalannya pertandingan.



Di Maria sebagai Pusat Permainan Menyerang

Lini depan Real Madrid tidak terlalu terpengaruh dengan absennya Ronaldo, seperti yang dikhawatirkan banyak orang. Barisan penyerang El Real justru bermain lebih bebas tanpa ada individu yang menonjol.

Tiga pemain di depan, yakni Bale, Di Maria, dan Benzema sebenarnya bermain sangat cair dalam pertandingan kali ini. Ditilik secara posisi, ketiga pemain tersebut seringkali bertukar tempat. Hanya saja, mereka berbagi peran dalam permainan.

Di Maria bertugas untuk jadi seorang playmaker, terutama saat Real Madrid sedang menguasai bola dan dalam kondisi menyerang. Sementara itu, Bale bertugas murni sebagai seorang targetman, tanpa banyak berperan dalam membangun serangan dari awal. Catatan jumlah umpan yang dilakukan Bale juga terendah di antara pemain lain yang menjadi starter, yakni hanya 22 kali.

Dalam membangun serangan, Di Maria sendiri lebih banyak bekerjasama membangun serangan dengan Di Maria. Benzema membuka ruang untuk menerima umpan, sementara Di Maria banyak memegang bola saat berada di area sepertiga akhir.

Tidak jarang Di Maria juga ikut turun ke tengah sebagai tembok pemantul dalam umpan 1-2 Real Madrid. Cairnya pergerakan trio penyerang El Real kali ini juga terlihat pada gol pertama yang dicetak Di Maria.
Menerima umpan pada area tengah lapangan, Di Maria bergerak melebar ke kiri untuk memberi ruang bagi Bale yang berlari dari tengah ke kanan. Namun, karena pertahanan Barca yang memang rapuh, Di Maria tak perlu memberikan bola kepada rekannya tersebut dan tinggal menceploskan ke gawang.



Seretnya Aliran Bola Barcelona

Selama babak pertama, Barca terlihat kesulitan memasuki kotak penalti Real Madrid, meski dari catatan statistik mengimbangi Real. Umpan terobosan yang biasa menjadi andalan tidak bisa dilakukan. Hal ini karena minimnya pergerakan penyerang Blaugrana dalam membuka ruang.



Keadaan di atas membuat Barca harus masuk melalui sayap sehingga umpan silang yang dilakukan oleh anak asuh Tata Martino juga meningkat. Skema ini sebenarnya belum bisa diandalkan, karena Messi yang bermain di tengah justru jarang masuk ke kotak penalti.

Pada El Clasico kali ini total Barca melakukan 30 kali umpan silang. Padahal rataan mereka musim ini hanya 18 kali, atau meningkat hampir dua kali lipat.

Posisi pemain Real Madrid, yang menggantung tiga pemain di depan untuk melakukan serangan balik, memang membuat area sayap mereka lebih rentan untuk diserang. Tak heran full back Los Galacticos jarang sekali maju membantu serangan.

Tapi Tata Martino nyatanya tidak mampu menyiapkan taktik yang sesuai untuk mengeksploitasi kelemahan Real Madrid ini. Iniesta, yang ditempatkan di sayap kiri, justru menjadi hambatan bagi Barca untuk menyerang. Kehadirannya hanya berpengaruh pada penguasaan possesion bagi Barca.

Blaugrana seolah tidak memiliki "tenaga" untuk mendorong bola dengan cepat ke depan. Ini diperparah dengan Neymar yang lebih sering mengisi pos kosong di tengah, yang ditinggalkan oleh Messi saat ia bergerak turun. Padahal, menyisir sayap untuk kemudian memberi umpan tarik/melakukan tendangan adalah salah satu keahlian pemain Brasil tersebut.

Entah apa yang mengganggu benak Lionel Messi, sehingga sepanjang 90 menit posisinya lebih sering jauh dari bola. Ia sering terlambat naik saat menyerang, dan juga saat bertahan atau sedang membangun permainan.

Salah satu puncaknya adalah mendekati menit akhir pertandingan. Barca yang berpeluang memenangi laga justru gagal saat menyerang. Terdapat momen ketika Messi hampir tidak bergerak padahal para pemain Barca menguasai bola di sepertiga akhir.





Mengalahkan Barca dengan Cara Atletico

Apa yang dilakukan oleh Carlo Ancelotti hampir sama dengan taktik Simeone saat memimpin Atletico mengalahkan Barca pekan lalu. Ia membuat Real melakukan pressing ketika bola masih berada di area pertahanan Barcelona, namun turun dengan rapat saat bola sudah masuk ke daerah Real Madrid.

Skema ini mampu memutus aliran bola dari belakang ke lini tengah Barcelona. Taktik ini juga memaksa dua bek tengah, Bartra dan Mascherano, untuk mengirim bola melalui umpan-umpan panjang.

Petaka bagi Barca karena gelandang El Real sedang dalam performa puncak kali ini. Xabi Alonso, Modric, dan Isco mampu melindungi empat bek Madrid dengan baik. Bahkan, saat menyerang, tak jarang Modric dan Isco juga ikut membantu ke depan. Instruksi yang diberikan oleh Ancelotti sepertinya juga berjalan dengan mulus.

Meski secara penguasaan bola Barca lebih unggul, namun secara kinerja mereka terlihat kalah dari El Real. Pertahanan zona yang diterapkan oleh Blaugrana gampang ditembus dengan cairnya pergerakan trio striker dan dua gelandang Madrid diatas.

Sementara itu, para gelandang Barcelona justru terlihat banyak menumpuk ketika mendekati area sepertiga akhir. Perubahan baru terlihat saat Fabregas ditarik keluar digantikan oleh Pedro pada menit ke-60.
Tata Terlambat Mengganti Pemain

Semua masalah-masalah di atas sebenarnya sudah nampak jelas pada babak pertama. Namun, sepertinya Tata terlambat dalam melakukan perubahan skema.

Dilihat dari susunan pemain yang diturunkan, sebenarnya Barca sudah mampu mengubah taktik tanpa mengganti pemain saat pergantian babak. Yakni dengan mendorong Fabregas ke depan dan menggeser Neymar ke kiri serta Messi fokus di kanan. Tapi pergantian ini belum menghasilkan hal yang positif mengingat karena performa Messi yang buruk sepanjang pertandingan.

Masuknya Pedro menggantikan Fabregas membuat Barca bisa melebarkan permainan. Saat lini tengah sulit untuk ditembus, Barca memiliki alternatif lain yaitu masuk melalui kedua sayap. Di luar dari gol balasan yang melalui tendangan pojok, masuknya Pedro membuat Barca menjadi lebih mudah masuk ke area sepertiga akhir.

Pindahnya Neymar di kiri juga membuat Di Maria menjadi tertahan dan banyak berada di area sendiri. Akibatnya, salah satu kekuatan Madrid di awal pertandingan, yakni serangan balik, menjadi tersendat.

Berbeda dengan Tata, Ancelotti tidak perlu ambil pusing karena memang pelatih lawan tidak banyak mengubah skema. Pergantian-pergantian yang dilakukannya juga untuk sekedar mengamankan skor selepas gol penentu yang dicetak Bale pada menit 85.

Kesimpulan

Barcelona seperti tidak belajar pada dua kekalahan sebelumnya saat melawan Atleti dan Granada. Tata seolah tidak menyiapkan skema yang bisa mengejutkan lawan. Peluang itulah yang dipelajari oleh Ancelotti untuk mengalahkan Blaugrana.

Selain cermat dalam mengamati kelemahan lawan, Don Carlo juga piawai dalam menyiasati ketiadaan Ronaldo. Taktiknya dengan penempatan Di Maria untuk menggantikan posisi salah satu bintangnya tersebut juga berjalan dengan baik. Demikian pula dengan mengadopsi taktik Atletico, sehingga mampu meredam aliran bola Barcelona mulai dari tengah lapangan.

Ini berbeda dengan Barcelona. Salah satu pertanyaan besar dalam pertandingan ini adalah performa buruk Messi sepanjang pertandingan. Striker asal Argentina tersebut bahkan terkesan setengah hati saat bermain.

Jumat, 04 April 2014

Spurs Remuk karena Kesalahan Pilihan Taktik Tim Sherwood

Liga Inggris: Liverpool 4-0 Tottenham

Pandit Football Indonesia - detikSport
Senin, 31/03/2014 14:35 WIB
 

Tiki Taka Barcelona vs Tekel Tekel Atletico Edisi ke-4: Kembali Imbang

Liga Champions: Barcelona 1-1 Atletico Madrid

Pandit Football Indonesia - detikSport
Rabu, 02/04/2014 18:38 WIB
http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2014/04/02/175247/2543638/1480/tiki-taka-barcelona-vs-tekel-tekel-atletico-edisi-ke-4-kembali-imbang
 
thumbnail 
 Getty Images/Albert Llop

Atletico Madrid bermain imbang melawan Barcelona di leg pertama Liga Champions. Hasil itu didapat dengan cara bermain seperti tiga laga sebelumnya; yakni zonal marking dengan hujan tekel.

Atletico sukses memetik hasil imbang 1-1 saat berduel melawan El Barca di Nou Camp, Rabu (2/4/2014) dini hari WIB. Mereka pun sukses mencuri gol tandang hingga tinggal butuh hasil imbang 0-0 untuk lolos ke babak semifinal.

Line Up Tetap Atletico

Menahan imbang Barca pada tiga pertemuan sebelumnya (dua kali di Piala Super Spanyol dan satu kali di La Liga), Diego Simione terlihat paham betul cara untuk meredam serangan Los Cules. Tak heran jika ia menurunkan formasi yang sama untuk menjalankan taktiknya.

Bahkan, susunan pemain dari skema 4-4-2-nya kali ini persis dengan starter pada laga La Liga 11 Januari lalu. Tak ada satu pun yang berubah, baik dari segi peran dan posisi.

Sementara itu, skuat asuhan Gerardo ‘Tata’ Martino sebenarnya lebih kuat. Lionel Messi yang pada 11 Januari lalu berangkat dari bangku cadangan, kini turun dari awal. Kehadiran Messi membuat Fabregas sedikit mundur ke belakang dan Pedro dibangku-cadangkan, sedangkan Iniesta beroperasi di sayap kiri.



Kedua tim sebenarnya sama-sama melakukan pergantian pemain pada menit-menit awal pertandingan, karena adanya pemain yang cedera. Tapi, pergantian ini tak banyak mengubah rencana kedua pelatih karena substitusi juga lebih bersifat apple to apple, mengganti pemain pada posisi yang sama.

Keuntungan pergantian menit awal ini menjadi milik Atletico. Di kubu Barca, center back muda, Marc Batra, memang mampu menggantikan peran Gerard Pique untuk merapatkan barisan pertahanan. Tapi, masuknya Diego Ribas, yang menggantikan Diego Costa yang cedera, mampu mencetak gol cantik dari luar kotak penalti.

Zonal Marking Ketat Plus Tekel Perusak Tiki-Taka
Dengan sistem zonal marking, Simeone seolah sengaja menantang Barca dan berkata, 'silakan bermain-main dengan possession-mu, tapi coba lewati kami kalau bisa.' Los Colchoneros sendiri diinstruksikan untuk tetap bertahan disiplin di posisinya.

Tapi, jika ada pemain Barca yang mendekat, mesti dihentikan dengan tekel keras. Hasilnya, tiki-taka Barca pun rusak. Belum sempat untuk mengatur skema umpan, pemain Barca sudah terjatuh duluan.

Terlebih lagi, rusaknya tiki-taka Barca ini lebih banyak terjadi di area sepertiga akhir lapangan, sehingga kreasi peluang mereka berkurang.

Barca kemudian menggunakan alternatif lain, yaitu mengandalkan skill individu pemainnya. Namun lagi-lagi buntu karena tekel demi tekel yang dilancarkan Atletico. Dari gambar di bawah ini terlihat, usaha take on (aksi melewati pemain lawan) Barca gagal selama 19 kali karena tekel tekel yang dilancarkan Atletico.


(Gambar Take On Barca)
Sepanjang 90 menit, Atletico total melakukan 78 tekel. Dari jumlah tersebut, 35 tekel sukses dilakukan, 19 gagal merebut bola, dan 24 berujung pelanggaran.

Selain karena tekel, tiki-taka dan opsi aksi individu Barca di atas gagal karena disiplinnya pemain-pemain Atletico dalam menjaga pertahanan daerahnya.

Terbukti, Atletico sukses 21 kali melakukan intersepsi, yang 19 di antaranya dilakukan di daerah pertahanan sendiri. Jumlah intersepsi di daerah pertahanan sendiri itu lebih banyak tujuh kali ketimbang yang dilakukan Barca.


(Gambar Defensive Dashboard Atletico Madrid)


Dari gambar di atas juga terlihat bagaimana Atletico berani untuk langsung menghentikan lawan di daerah pertahanan Barcelona. Hal ini dimaksudkan Simoene agar dapat secepatnya mendapatkan peluang melalui serangan balik.

Namun, taktik ini gagal karena terlampau kerasnya sliding tackle yang dilakukan oleh para pemain Atletico sendiri. Dengan total delapan pelanggaran yang tercipta di area lawan, cara ini pun terkesan malah melahirkan pelanggaran yang tak perlu.

Atletico pun mau tak mau harus menanggung akibatnya. Dari total 24 pelanggaran yang mereka lakukan, enam pemain Atletico harus rela diganjar kartu kuning. Hal ini tentu sedikit beresiko mengingat format sistem turnamen seperti ini.

Andai tekel mereka lebih tenang dan bersih, serangan balik yang diinginkan Simeone bisa saja tercipta dan tak berbuntut kartu peringatan.
Dari average position kedua tim, terlihat jika Atletico disiplin dalam menerapkan sistem pertahanan mereka. Meski mereka dikurung Barcelona, dua center back Atleti tetap setia bertahan di posisinya.



Bagaimana Atletico Menyerang?

Serangan balik adalah jawaban dari pertanyaan di atas. Melawan tim-tim yang gemar menguasai bola seperti Barcelona, jalan untuk menang adalah dengan memaksimalkan counter attack.

Ada berbagai cara untuk mengkreasikan serangan balik. Bisa disusun dengan diawali high pressing untuk merebut bola di area lawan, menggantung satu pemain pelari di depan, atau melalui umpan-umpan panjang.

Simeone memilih dua skema serangan balik untuk membunuh Barca, yaitu high pressing berujung serangan balik dan long passing. Namun kedua cara ini kurang efektif diterapkan dalam laga ini.

High press mereka dirusak oleh permainan mereka sendiri, yaitu tekel keras. Serangan balik pun urung terlaksana karena dihentikan oleh peluit wasit menyusul kerasnya pemain Atletico dalam merebut bola.

Umpan panjang ke area sepertiga akhir juga tak berbuah hasil. Dari 26 kali long pass Atletico, hanya tiga yang sampai ke teman sendiri. Itu pun dengan catatan bahwa tiga successful long pass itu tak sampai ke area final third.


Salah satu penyebab kegagalan itu adalah karena umpan lebih banyak diarahkan ke sayap, sementara Arda Turan dan Koke kurang cepat untuk kembali naik. Keluarnya Diego Costa juga membuat skema long ball Atletico gagal jika diarahkan ke tengah.

Pasalnya Diego Ribas dan David Villa lebih bertipikal seorang second striker yang menyisir dari lini kedua. Keduanya bukan target man yang siap menerima bola seperti Costa.

Simeone sendiri harus berterimakasih dengan insting Diego dalam melepaskan tendangan dari luar kotak penalti. Meski tendangan macam ini merupakan usaha spekulan, tetap butuh pemain dengan insting dan naluri gol yang tinggi untuk menciptakan gol seperti ini.

Barca Diselamatkan Rotasi Jitu

Ucapan terimakasih di kubu Barcelona memang bisa ditujukan untuk Neymar, pencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-79. Namun, terciptanya gol ini tak lepas dari pergantian jitu yang dilakukan Tata Martino tiga menit sebelum gol Neymar tercipta.

Tata menarik keluar Fabregas, yang diplot sebagai gelandang, dan memasukkan Alexis Sanchez. Ini kemudian merubah pemain Barcelona baik secara taktikal, posisi, maupun peran.



Iniesta yang semula beroperasi di sayap kiri kini kembali diduetkan dengan Xavi di tengah. Sementara itu Neymar bergeser ke kiri dan Alexis ditempatkan di sayap kanan. Perubahan jitu ini berbuah hasil. Iniesta mampu mengirimkan assist sempurna kepada Neymar.


(Gambar proses gol Neymar)
Kredit juga layak diberikan kepada Iniesta dalam terciptanya proses gol di atas. Ia dengan cerdik mengirimkan umpan diantara dua garis pertahanan Atletico. Ruang terbuka antara dua bek tengah dan bek sayap kanan tim tamu bisa dimaksimalkannya dengan sempurna.

Sebenarnya, ruang lebar pada garis pertahanan Atletico ini bisa dibilang kelengahan. Secara keseluruhan, bek Atletico tampil disiplin dalam menjaga deffensive line-nya. Mereka tetap berusaha sejajar dalam mencegah masuknya aliran bola. Tapi, kehadiran Messi memang membuat dua bek tengah Atleti bekerja keras untuk menjaganya, sehingga kemudian tercipta ruang lebar tersebut.

Gambar peluang Barcelona di bawah ini juga membuktikan bahwa barisan pertahanan Atletico sangat disiplin. Dari 19 shots yang dihasilkan Barca, hanya 6 yang bisa dilakukan di dalam kotak penalti.

Sisanya adalah attempts dari luar kotak karena frustasinya Barca dengan rapatnya zonal marking Atletico.

Dari keenam peluang inside the box tersebut, dua yang mengarah ke gawang dihasilkan dari dua kali sundulan. Sementara tiga tendangan sukses diblok oleh bek Atletico dengan tekel-tekel beraninya. Hanya satu peluang Barca yang gagal ditahan bek Atletico, yaitu tendangan Neymar yang berujung gol.


(Gambar Attemps Barcelona)

Kesimpulan

‘Tekel-tekel’ Simeone memang sukses menghentikan tiki-taka Barcelona. Terbukti, pada musim ini, Barca empat kali gagal menundukkan Atletico.

Malah Atletico yang dapat mencuri satu gol away di leg pertama ini. Namun, taktik tekel keras ini beresiko tinggi karena malah bisa berbuntut hujan kartu kuning.

Andai tekel ini dilakukan dengan rapi dan bersih, bukan tak mungkin skema serangan balik yang disiapkan Atletico dapat terlaksana. Atau pertandingan bahkan bisa dimenangkan Atletico.

Untuk kubu Barcelona, mesti disadari bahwa beberapa tim kini sudah mulai menemukan formula untuk meredam tiki-taka. Tongkat perubahan ada di Tata. Ia bisa mengubahnya atau tetap menjalankan sesuai yang ada.

Andai ia tak berani mengubah pakem Barca ini, rotasi-rotasi jitu seperti di atas harus sering-sering dilakukan. Sebab, setiap klub yang melawan Barca tetaplah berpegangan dengan bagaimana cara menghentikan tiki-taka.

Minggu, 23 Februari 2014

menurut gue galau itu halal kok :p
tapi yang haram tuh galau yang lebaynya lebay banget pake banget
why??? because i think they have a doubt on their GOD that she/he believes
we all know that GOD always give the best not the worst, always give what they needed not what they wanted
so the point is galau itu boleh tapi secukupnya aja dan disertai dengan instropeksi diri :)
oiya, for my kryptonite i always waiting for you kok hehe
i always enjoy this "waiting moment" because i believe there is nothing useless in this world
NOTHING WITHOUT MEANING
toh ga rugi juga kok, kan bisa jadi pengalaman hehe
i still believe that every action has the equal reaction

OM OM OM

20-02-2014
mungkin jika kejadian yang gue rasain saat ini bisa ditulis dalam rumus itu seperti ini:
A>B>C>D.... etc
ada yang ngerti? kalo ada bagus, kalo engga ya udahlah hahaha
at least i'm still struggling until right now
if i get what i want ya  ALHAMDULILLAH :)
if i can't get what i want ya i think i have another thing to struggle for, that is letting you go

OM OM OM
14-02-2014
i'm actually a winner but when i'm with her i just can make myself like a loser, i'm so weak hahaha
i think i'm superman and she's my kryptonite
is it that what people called "exception"???
i don't know either
i love you just like the first time i say it to you 'till right now and i always try to keep this feeling forever
 OM OM OM


07-02-2014